Tag Archive: Saija


ASAL USUL MARGA SAIYA


Berawal di negeri Waetui di pedalaman Seram Tengah, tinggal sebuah matarumah Lesiela mereka hidup rukun dan damai. Pada suatu saat pergolakan terjadi di dalam mata rumah tersebut, maka berangkatlah beberapa orang dalam mata rumah Lesiela untuk turun kelaut yaitu daerah pesisir.

Disana mereka tinggal disebuah dusun sagu yang bernama Wailei daerah ini berada diantara negeri Latu dan Rumakai sebuah dusun sagu antar negeri. Begitulah perjalanan adik berkakak yang turun dari negeri Waetui. Sang kakak memegang predikat Tuasaya (dibaca : Tosaya) yang berarti beta turun.

Setelah didusun Wailei ia berangkat menuju pulau haruku sedangkan seorang adiknya ia tingalkan di negeri Tihulale dengan nama Tualena , sesampai didaerah Hatuwalane seorang adiknya menetap disitu dengan nama Tuahatu, sedangkan dia menuju pulau haruku dan menetap di Latusaman bersama adiknya Leuhery, setelah pecahnya perang di Amaika dan terbentuklah ikatan pela antara keempat negeri yaitu Aboru Booy Hualooy & Kariu, suatu saat kemudian ia kawin dengan anak Raja Amaira maka beranak-pinaklah keturunannya dengan mengunakan marga Tuasaya hingga terbentuklah negeri Aboru, setelah keturunannya kian bertambah salah satu anaknya kawin dengan anak perempuan yang berasal dari negeri Oma. Dalam perkawinannya perempuan tersebut telah mempunyai seorang putra sebelum kawin dengan sang lelaki Tuasaya, kemudian anak tersebut diarken (‘arken’ artikan adopsi) dengan marga Tuasaya.

Dari sinilah terjadi konflik dalam keluarga Tuasaya mengenai anak tersebut yang hingga saat ini disebut Peisuri (‘peisuri’ artinya masuk secara diam-diam dari belakang), sekitar beberapa genarasi berlalu sekitar abad ke-18 terjadilah kecekcokan antara anak marga Tuasaya yang asli dengan anak marga Tuasaya dari keturunan peisuri yang saling menghina mengenai keaslian marga mereka, sehinga hal tersebut diajukan didalam proses hukum pada zaman belanda pada waktu itu. Setelah diperiksa oleh lembaga hukum belanda maka keputusan yang diambil marga Tuasaya diganti dengan marga Saiya. Hal ini terbukti dalam daftar gereja tahun 1958, tapi sebelum tahun 1958 marga Saiya tidak pernah ada hanya marga Tuasaya sedangkan sesudah tahun 1958 munculah marga Saiya Hingga sekarang ini.

Begitulah asal usul marga Saiya yang dituturkan turun-temurun oleh keluarga Tuasaya.

Oleh Gerson Saiya (Ony Saiya – Met)

Iklan

Berasal dari marga TUASAYA (dibaca Tosaya) setelah perubahan marga oleh pemerintah Belanda akibat pertengkaran dalam mata rumah TUASAYA maka SAIYA mempunyai arti yang sama dengan kata SAYANG.

Pada waktu dulu sebelum penulisan balok menjadi populer dikalangan orang modern, penulisan sambung sangat terkenal karena itu orang-orang tua terkenal baik dengan menulis indah. Dari sinilah mengapa sampai terjadi kesalahan dalam penulisan marga SAIYA, serta mengapa sampai keturunan marga SAIYA sering beradu pendapat mengenai penulisan nama marga (FAMILY NAAM) yang tepat.

mulainya perbedaan penulisan muncul tiga penulisan marga yang berbeda namun mempunyai arti yang sama, yaitu: SAIJA, SAIYA, dan SAYA (ketiganya dibaca dengan SAIYA).

Penulisan sebenarnya dalam tulisan sambung adalah saija (dibaca saiya):

• Pada marga SAYA perubahan marga disebabkan penulisan sambung pada marga SAIJA (seakan-akan huruf i dan j saling menyambung (lihat pada penulisan diatas), sehinga pada akhirnya mengalami kesalahan penulisan oleh beberapa generasi sesudah penulisan sambung tidak populer) .

• Pada marga SAIYA tidak ada kesalahan penulisan tapi sesuai dengan penyempurnaan eyd (ejaan yang disempurnakan dalam bahasa indonesia) contoh *djakarta = jakarta *jotce = yoce dsb, sehinga SAIJA sering dibaca atau disebut dengan SAIYA .

• Pada marga SAIJA tidak ada kesalahan penulisan sejak adanya perubahan nama marga.

Oleh Gerson Saiya (Ony Saiya – Met)