Category: Faith-Religion



Halaman Alkitab Kristiani tertua di dunia yang masih ada saat ini, the Codex Sinaiticus, telah disatukan kembali dan dirilis dalam bentuk dokumen digital.

Halaman dari buku kuno yang ditulis tangan lebih dari 1.600 tahun yang lalu dan bagian-bagian dari Alkitab ini sempat terpisah dan berada di empat negara berbeda selama lebih dari 150 tahun.

Perubahan format naskah ke dalam bentuk digital ini melibatkan banyak pihak, seperti Perpustakaan Nasional Inggris, Perpustakaan Nasional Rusia, Perpustakaan Leipzig University Jerman, dan St. Catherines Monastery di Mesir. Keempat pihak ini mengadakan negosiasi untuk mengumpulkan semua fragmen.

Anggota tim Proyek Codex Sinaiticus telah bekerja selama empat tahun agar bisa mengubah Alkitab Kristiani tertua di dunia ini dalam bentuk digital.

“Proyek ini menawarkan satu jendela ke dalam perkembangan awal agama Kristiani dan bukti pertama tentang bagaimana teks Alkitab itu dikirim dari generasi ke generasi,” ujar salah satu karyawan Proyek Codex Sinaiticus.

Ditemukannya naskah asli berupa salinan lengkap awal mula dari Jemaat Perjanjian Baru ini ternyata membawa dampak kurang baik bagi kitab perjanjian lama.

Saat ini, banyak peneliti dan pustakawan Kristiani Internasional yang masih mempertanyakan keabsahan isi dari kitab perjanjian lama dan buku-buku yang beredar di kalangan umat Kristiani di dunia.

Menurut informasi yang ada, sedikitnya bukti-bukti sejarah yang memperkuat kebenaran isi kitab-kitab perjanjian lama menjadi salah satu penyebabnya.

Sumber : cbn.com/bm

Iklan

Australia di kenal melahirkan beberapa band musik Kristen yang ternama, dari yang sudah veteran seperti Newsboys dan Rebecca St. James hingga yang baru seperti Hillsong dan Planetshakers. Menurut Henry dan Alex Seeley, pasangan pemimpin pujian dari Planetshakers, grup musik ini bertujuan membawa puji-pujian rohani melangkah lebih maju, dengan menjangkau anak muda sesuai dengan gaya musiknya dan membawa mereka mengalami keintiman dengan Tuhan melalui penyembahan. Mereka juga berharap bahwa kegerakan yang terjadi di antara anak-anak muda Australia dapat menyebar ke negara-negara lain.

Berikut wawancara dengan Henry dan Alex Seeley yang dikutip jawaban.com.

Anda telah melayani anak-anak muda Australia cukup lama, tapi bagi mereka yang baru pertama kali mendengar tentang Planetshaker, bisa Anda ceritakan mengenai Planetshakers dan apa perbedaannya dengan band-band rohani lainnya?

Henry : Kami bukan apapun selain grup band pujian dan penyembahan. Kami telah menjadi memimpin pujian penyembahan korporat di anak-anak muda gereja kami selama lebih dari sepuluh tahun. Apa yang kami lakukan, adalah apa yang sudah menjadi gaya hidup di gereja kami. Di Amerika, kami melihat banyak band yang sudah membuat album rohani. Sehingga sepertinya band rohani menjadi sesuatu yang biasa. Jadi yang kami lakukan dan menjadi gaya hidup kami adalah pujian dan penyembahan, bahkan yang mendasari kehidupan kami adalah hal ini.Di Planetshaker, Anda tidak akan melihat artis terkenal atau hanya pertunjukan musik yang memamerkan keahlian personilnya; Ini lebih bagaimana membangun kehidupan dalam pujian dan penyembahan.

Apa yang menjadi format dari pertunjukan Planetshaker?

Alex: Format kami bukanlah konser, kami adalah grub band hasil dari pelayanan pujian penyembahan yang melakukan performance di konfrensi gereja kami. Director kami adalah pendeta kami, dan dia menyisipkan dalam musik kami pesan-pesan profetik dari waktu ke waktu. Kami tidak mematok seperti apa penampilan kami di panggung; kami mengalir sesuai pimpinan Roh Kudus. Kami tidak memfokuskan diri bagaimana membuat band ini terkenal. Kami lebih konsen memberkati banyak orang untuk mengalami hubungan yang lebih intim lagi dengan Tuhan.

Apa pendapat kalian mengenai album kalian yang sudah tersebar di berbagai negara. Banyak band yang bermimpi bisa menjadi seperti Planetshakers?

Alex: Kami tidak pernah membayangkan bisa menjadi terkenal seperti saat ini. Henry menulis lagu yang berjudul “It’s All About Jesus.” Itu merupakan isi hati kami; Keseluruhan visi kami adalah membawa pesan Yesus Kristus dan menjangkau anak muda untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui pujian penyembahan. Satu-satunya tugas kami adalah membawa pendengar kami mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Henry: Saya tidak menyukai kemewahan rock and roll. Bagi kami, sebuah lagu haruslah bisa menjadi berkat bagi pendengarnya. Hal ini bukanlah tentang segala sesuatu yang kami dapatkan sewaktu band kami terkenal. Saya tidak peduli tentang menjadi artis terkenal, yang saya pedulikan adalah bagaimana menulis lagu yang akan selalu di ingat orang banyak dan memberkati hidup mereka.

Bagaimana proses Anda (Henry) menulis lagu?

Henry: Banyak lagu yang saya tulis merupakan hasil dari perenungan dan saat penyembaahan pribadi saya. Handphone saya, saya khususkan untuk hal ini, melalui handphone, saya bisa merekam materi selama dua jam. Saya tipe orang yang waktu masuk mobil dan mulai menyetir akan mulai menyanyi sepanjang perjalanan. Saya merekamnya dan menemukan banyak lirik baru, saya akan mendengarkan ulang semuanya dan mencari lirik yang paling menempel di kepala saya. Kami sangat berhati-hati, untuk tidak membuat lirik lagu yang rumit, lagi pula akan menyulitkan orang lain untuk memainkannya kembali. Banyak anak-anak muda yang mendatangi kami dan mengatakan bahwa mereka memainkan lagu-lagu kami dalam ibadah gereja mereka.

Menarik bukan? Planetshakers menantang setiap orang untuk mengalami Tuhan lebih lagi. Dengan musik dan lirik mereka mengabarkan kasih Tuhan, dan menjangkau anak-anak muda.

Sumber : Berbagai sumber