Latest Entries »


Negeri Lealohi Samasuru salah satu negeri Adat di Maluku yg sampai sekarang ini masih mempertahankan Adat,Sejarah Budaya sebagai Aman hena-masa (Negeri dahulukala )Negeri ini terkenal dimana-mana dan tersebar sampai diseluruh dunia.

Sehingga dalam sejarah Negeri Aboru sangat terkenal disaman penjajahan (kolonial ).

Katong harus mempertahankan Adat Sejarah Budaya Aman Aboru,supaya kehidupan anak-anak cucu yang berasal dari Aman Aboru dapat mempertahankan Aman Aboru. katong harus mulai dirumah tangga dulu,baru dapat teruskan kepada orang lain tentang Adat Sejarah Budaya Aboru ( Lea Lohy Samasuru )disitulah katong rasa bangga dengan katong pung Aman Aboru Lea Lohy Samasuru kepada siapapun juga..Dari Bahasa kenal Bangsa dari Adat kenal Negeri dari Sejarah kenal  kepunyaan Dati Pusaka Keturunan Aman Aboru Lea Lohy Samasuru.


Matarumah-matarumah tua (asli) di negeri Aboru dan darimana datangnya atau berasal, dapat dicatat antara lain:

  1. Matarumah Saya, keturunan Kapitan Halawatuni Latumalessy Tua Saya dari Nunusaku pulau Seram
  2. Matarumah Akihary, keturunan Kapitan Nusa Tua Patti Akihary dari Seram Nunusaku
  3. Matarumah Leuhery, keturunan Suriya Latu Malesia Leu Haheria ( leuiery-Leuhery) dari Nunusaku
  4. Matarumah Nahumury, keturunan Lohuputiya Nawihi atau Naneri Nahumury dari Madura (jawa)
  5. Matarumah Teterissa, keturunan Mahalarissa (teterissa) dari Bali
  6. Matarumah Sinay, keturunan Simon Sirawae Tua Sinay dari Buria Seram
  7. Matarumah Usmany, keturunan Usman bin Ali Pusmonia dari Aceh

Sejarah Persekutuan Persaudaraan ‘P E L A’ Aboru Booi Hualoi Kariu

Keterangan gambar:

………… Misi perjalanan jatu une dari Nunu Saku ke Tanita Uru Wane

^ Tanita Uru Wane (G.uruwano

++++++ Batas Daerah Kowenangan potuonan 4 anak Latu Ume

1. Aman Hatua

2. Kota Amaika

3. Pasar Asillalo

4. Aman Hahui

5. Aman Iraa

6. Rute perjalanan kapitan Tua Saya

7. Latusaman

8. Ruto perjalanan kapitan Nahumury

9. Aman Mahina

10. Naeira

 

PELA

Asal kata pela dalam arti suatu persekutuan

PULAU HARUKU DIMASA LAMPAU

Orang pertama yang menginjakkan kakinya di pulau Haruku

Generasi penerus pewaris petuanan Aboru

Masuknya agama islam serta Pengaruhnya

KAPITAN TUA SAYA LAKI-LAKI PERKASA

Misi perjalanan kapitan Tua Saya

Usaha mengenal Lingkungan serta mencari informasi

Pertemuan dengan Latu Kohurupun Tua Sinay

Pintu Kerajaan Amaika terbuka lebar

Perasaaan Cinta berobah menjadi demdam

Perhitungan jiwa sebagai faktor penunjang

Pecahya perang Amaika

Tahap-Tahap konsolidasi pasukan

Daerah Alohihai

Daerah Hurunmatupa Uwei

Daerah Hatusapi

Detik-Detik penyerbuan

Terbentuknuya persekutuan Pela

Pengucapan sumpah/janji

 

1.(UMUM)

Terbentuknya persekutuan persaudaraan (PELA) 4 Negeri,

Aboru Booi Hualoi dan Kariu, berawal dari perang Amaika. Berbicara

Mengonai perang Amaika, perta-ma-tama perlu diketahui:

- Tempat/daerah mana terjadinya perang

- Siapa pelakunya

- Sebab-sebab terjadinya perang.

Amaika atau aman ika *) Dalam bahasa daerah, adalah sebuah kota

Kesultana-n pada zaman dahulu(ratusan tahun silam) terletak dipedalaman

Nusa Hatu Haa *) (Pulau haruku) sekarang bagian selatan Tanita Uru Wane *)

Tepatnya aipetuanan Aboru, Amaika lermasuk 2 buah negeri lainnya yaitu Aman Iuwa

(Amiuwa) dan Aman Huhui, dibangun oleh empat orang bersaudara yaitu:

Suria samar Tua Sinay; Latu kohurupun Tua Sinay, Patina Pasala Tua Sinay dan Tua Sinay;

Merka adalah keturunan ke 7 dari Latu Ume*) orang pertama yang menginjakkan kakinya

Dinusa Hatuhaa dan menetap di Tanita Uruwane sewaktu turun dari Nunu Saku (Nusa Ina).

Karena terjadi perpecahan dalam kehidupan persaudaraan ini, maka ketiga saudaranya

Masing-masing Latu Kohurupan pindah ke Aman Huhui, Patina Pasala pindah kembali kenegeri kelahirannya di Aman Hatua dan Selanjutnya ke Tanita Uruwane sedangkan adik

Bungsu mereka hijrah je Boria (Seram Utara).

Kekuasaan suria Samar sebagai Sultan Amaika hanya terbatas dikota Amaika: sedangkan

Daerah petuanan Aboru yang diwariskan oleh lelunur meraka Nusahuhui Tua Sinay (Putra sulung) Latu ume, secara keseluruhan tarada di Aman Huhui

Sebagai pelaku peperangan dimaksuk, adahlah Latu Malesi Halawan Tuni Tua Saya, panggilan akrabya: Tua Saya (kapitan) yang penuh sakti dari Wae Tui (Nusa Ina) dibantu

Dengan beberapa kapitan kawakan dari Booi, Hualoi dan dari Aboru sendiri, disatu-pihak melawan raja/sultan Amaika (Suria Samar) dilain pihak. Jalannya pertempuran atau perang

Amaika ini tidak seimbang, karena dari pihak sultan Suria Samar tidak ada seorang saudaranya yang mau membantunya termasuk beberapa saudara kapitannya yang terkenal sakti penuh perkasa yang ditakuti dan digegani; apalagi Patina Pasala

_______________________________________________

*) Aman = Negeri: Ika= tidak kokoh; negeri yg.akan hancur.

*) Nusa = pulau; Hatu = batu; Haa = empat nama yang diberikan oleh Latu Ume

*) Latu = Raja atau Tuan Ume = tanah (raja tanah atau tuan tanah)

*) Tanita = bukit; URU = kepala; Wane = mas (bukit kepala mas)

Kapitan bermuka dua pakai ekor yang terkenal dengan kesaktiannya yang luar biasa itu.

Sebab-sebab terjadinya perang karena:

Ulah dan kesombongan sultan Suria Samar yang membuat perpecahan dalam keluarga Tua Sinay Rasa dendam kapitan Tua Saya karena pelecehan bama Baiknya/harga dirinya yang dikaitkan dengan tidak direstuinya perkawinnya dengan putri sulung dari Sultan yang sangat cantik (Sanar Kinar) seluruh rakyat termasuk keluarga Sultan Memeluk Aga.ma Islam

Ambisi kapitan Tua Saya untuk berkuasa dan didaukat dipetuanan Aboru secara keseluruhan

Perkembangan serta kemajuan kota Amaika ditandai dengan pembauran kebudayaan yang

Datangnya dari pedagang Mongolia/Cina.

Kemudian disusul dengan kedatangan 2 orang tokoh aga-aga Islam dengan kedok pedagang yang datang dari kepulauan Banda yang ingin menyebarkan agama. Meraka bernama Hayoto

Puti menyusup sampai ke Amaika melalui pantai selatan.

Dengan mengambil hati masyarakat serta keluarga Sultan dengan barang dagangan mereka, maka mereka diinzinkan untuk membangun rumah ibadah (sebuah mesjid) yang representa-tip. Selain itu terdapat juga sarana penunjang berupa nomian Selatan-Utara serta berfungsi sebagai tempat transit barang-barang dangangan.

Dengan ulah serta keangkuhan Sultan Suria Samar, menyulut api peperangan yang membakar/menghancurkan kota Amaika dikemudian harinya.

PELA

Pengertian: kata atau istilah PELA ini adahlah istilah bahasa daerah PELA-I-A yang artinya selesai atau sudah selesai; mungkin pernertian ini dianut atau dipakai dalam masyarakat daerah seribu pulau ini atau paling ditak terbatas di Ambon, Lease dan Seram.

Bertolak dari pengertian tersebut, maka Pela adahlah suatu bentuk organisasi sosial (persekutuan, ikatan, hubungan) yang terjalin dari dua kelompok manusia atau lebih; yang dalam penulisan sejarah ini disebut negeri atau desa, baik negeri-negeri berdekatan maupun

Saling berjauhan/antar pulau tidak terbatas pada persamaan golongan, aliran dan agama. Seba: ai contoh: negeri Pelauw dipulau Haruku yang bergama Islam, mengangkat pela dengan negeri Titawai dipulauw Nusalaut yang bergama Kristen: Aboru, Booi Dan Kariu, yang bergama Islam dan sebalikyna. Organisasi atau ikatan persaudaraan ini biasanya dalam pembetukannya dilandasi dengan sumpah/janji dan bernafaskan sakral; sehingga apabila dilanggar atau tidak dipatuhi pasti akan mendatangkan kutukan atau lazim

Disebut dosa. Mungkin saja ada sebagian orang yang tidak memperca yainya, tetapi demikian kenyataannya. Sebagai orang percaya

Kita bisa melihat kebernarannya sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab: ‘’ Apa yang sudah terukir didunia, dimetraikan disurga’’.

Asal kata Pela dalam arti suatu persekutuan

Pengertian Pela kiranya sudah jelas kepadaw kita samua;

Namum asalnya atau darimana kata pela ini diangkat, yang dalam

Hubungannya dengan sejarah Pela 4 negeri ini, perlu dipertanyakan dan harus terjawab. Bagi kami, untuk mendapat jawabannya, baiklah kita semua (masyarakat) ke 4 negeri (BAKH) khususnya para team penulis sejarah ini harus jeli dan mampu tahu jalan ceritera sejarah perang Amaika, maupun pada saat pembagian ja-rahan perang. Menurut kami, kata atau istilah ini diangkat dari ucapan kapitan Tua Saya sendiri kepada kapitan Tua Salai dari Kariu yang datangnya terlambat: Alle kawa-ti-o na tihi prang PELA-I-A. Untuk itulah kami berkeyainan bahwa dalam pembentukan ikatan persekutuan ini, pengunaan istilah Pela tadi oleh kapitan Tua Saya diangkat dari keterlambatan datangnya Tua Saya. Andaikata bantuan yang diminta oleh kapitan Tua Saya datangya seretak serta bahu-membahu dalam pertempuran mungkin ikatan persekutuan 4 negeri ini mempunyai nama lain,

Misalnya Gandong, yang pengertiannya sinonim dengan Saudara kandung. (seibu-sebapak).

Kami mengakui bahwa penulisan sejarah Pela 4 negeri ini diangkat dari tuturan turun remurun yang da-lam sejarah disebut sumber lisan; kalau tokh dapat kami katakan bahwa sejarah ini ada mempunyai sumber benda itupun tidak salahnya, karena masih ada peninggalan-peninggalan sampai sekarang ini.

Metode yang kami pakai dalam penulisan ini adalah metode pendekatan dalam artian wawancara dengan beberapa nara sumber yang kami tahu persis indentitas

Mereka serta tanya jawab mengenai sisa-sisa benda peninggalan yang ada, dan memang perlu adanya penelitian para pakar untuk mengetahui dengan pasti zamannya.

Melalui sumber lisan tadi, kami berusaha untuk menelitinya, mengkaji, menganalisa sera ditafsirkan secara cemat dan kritis, sehingga kami berani untuk mengangkatnya kepermukaan melalui penulisan ini.

Dengan demikian kami berkeyakinan bahwa selama ini adanya kesimpang siuran dari beberapa pihak dalam tuturannya, dapat diatasi dan diluruskan, sehingga masya-rakat keempat negeri (BAKH) dapat mengetahui kebernaran sejarah ini dengan jelas; denga-n kata lain, dapatdikatakan: kita tidak boleh menipu generasi penerus

Pulau Haruku Dimasa Lampau

Ora-ng pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Haruku

Berbicara mengenai persekutuan persaudaraan (PELA) empat negeri BAKH,

Lebih dulu kita harus bericara mengenai pulau Haruku, khususnya petuanan, Aboru; sebab disinilah terjadinya perang Amaika sehingga terjadinya sumpah/janji Pela yang dikenal dengan ‘’SUMPAH HATUAPUA’’ Pulau Haruku dimasa lampau na-manya Nusa Hatu Haa; sebuah nama yang spesipik, diangkat dari nama sebuah keluarga yang pertama sekali menginjakkan kakinya di pulau ini; tepatnya di Tanita Uruwane gunung/tukit huruwano sekarang. Orang atau keluarga dimaksud adalah Latu Ume beserta istrinya yang turun dari Nunu Saku (nusa ina) dan menetap di Huruwano. Keluarga ini dikaruniai 4 orang anak laki-laki; yang pertama bernama Nusa Huhui Tua Sinay dengan daerah kekuasaan dari Timur ke selatan; yang kedua: Latu Marawakan dengan daerahnya sebagian Barat ke Utara; dan yang ketiga Tua Surinaij dengan daerahnya bagian barat ke Utara; dan yang keropa empat menguasai bagian Utara. Justru pembagian ini, maka Latu Umemenamakan pulau.

Ini Nusa Hatu Haa dalam artian pulau ini mempunyai empat pejaga. Masing-masing a-na-k ini mempunyai keturunan untuk Aboru, Oma, Rohomoni dan Pelauw. Mengingat pertumbuhan dan pertambahan jiwa khususnya keluarga Nusa Huhui Tua Sinay, makanak-anaknya menggeser turun kearah selatan membangun sebuah negeri yang bernama Aman Hatua; karena disinilah lahir seorang anak mereka dan diberi nama Hatua Tua Sinay. Langkan yang yang diambi oleh keluarga ini cukup beralasan karena mereka harus mengawasi

Petua-nan mereka yang cukup luas ini; sebab kenyataannya sudah ada penda-tang baru yang menyusup masuk kedalam daerah petuanan mereka; a-ntara lain Tua Nahumury di Ama Mahina, di Amairaa, Sane, seidraloi, Amahanala, Amabuangsa dsb.nya.daerah-daerah sane letalnya agak keselatan Aman Hatua serta jaraknya tidak jauh dari pesisir pantai

_______________________________

*) Nusa = pulau, Hatu = batu, Haa = empat

*) Uru = kepala; Wane = Mas; Tanita Uru Wane = Bukit kepala Mas.

Latu Ume = Raja Tanah atau Tuan Tanah. (Latu Ume, ada nama aslinya

Diantara perkampungan yang ada ini, Amairaa-lah yang paling menonjol sekali, karena statusnya sebagai kota dan mempunyai seorang raja yang memerintah membawahi kampung-kampung lainnya.

Generasi penerus pewaris petuanan Aboru

Selama Hatu Tua Sinay berdomisili di kampung Hatua, ia dikaruniai 4 (Empat) orang

Anak laki-laki; yang tetua bernama: Suria Samar Tua Sinay, yang kerdiga bernama: Kohurupun Tua Sinay, ya-ng ketiga: Patina Pasala dan yang keempat adalah Tua Sinay.

(catatan: Patina Pasala adalah seorang kapitan, bermuka dua serta mempunyai ekor; Suria Samar Sultan Amaika). Kerukunan hidup dalam keluarga bersaudara ini ditandai dengan pembangunan tiga buah kampung, masing-masing: (Aman Iwa (Amiuwa), Amaika dan Aman Huhui. Keberhasilan keluarga ini membuat kampung Amaika

Berobah statusnya menjadi kota sehingga tersohor bukan saja di nusa Hatu Haa malah lebih dari itu sampai kedaerah seberang dinusa Lau Haha lainnya maupun di Nusa ina (Seram). Perkembangan kota Amaika ini ditunjang dengan adanya sebuah pasar yang reoresentatip yang terletak tidak jauh dari kota Amaika ke arah Timur. Pasar ini namanya Asallaloi; pasar ini berpungsi sebagai urat nadi perekonomian dan sekaligus sebagai daerah transit barang danangan selatan – Utara Nusa Hatu Haa.

Masuknya agama islam serta pengaruhnya.

Jauh sebelum masuknya agama Islam, kota Amaika sudah didatangi oleh para pedagang asal Tiongkok dan terbukti dengan adanya barang-barang yang terbust dari tembikar seperti patung dan barang pecah belah dari Porselin.

Disela-sela maraknya perdagangan, tidak kurang orang asing lainnya yang datang dengan kedok pedagang, membawa agama.

Halini terbukti dengan kehadiran 2(dua) orang pedagang tokoh agama islam kebangsaan Arab yang datang dari pulau-pulau Banda. Dari Banda mereka berlayar menyusuri pantai Selatan pulau Seram dengan barang dagangannya masuk ke Haya: Dari situ mereka menyusuri pantai Timur Nusa Hatu Haa dan singgah disuatu tempat yang bernama Waelain. Kedua pedagang ini masing-masing bernama: Hayoto Puti dan Hayoto Mete.

________________________

*) Nusa Lau Haha = Pulau-pulau dilaut; kalau dilihat dari Nunusaku (seram). Nusa Lau haha ini adahlah pulau haruku, Saparua, Nusalaut termasuk pulau Ambon.

Mela-lui perkampungan bagian selatan dengan dipandu oleh penduduk disitu, para pedagang tersebut menyusup dengan barang dagangan mereka masuk kota Amaira dan selanjutnya sampai kepasar Asalloi dan selanjutnya ke Amaika, dengan menggunakan taktik, salah seorang dari mereka menetap dengan barang dagangan mereka sedangkan yang satunya pergi pulang mengambil persediaan barang untuk di dual. Setelah mempelajari budaya serta menguasai struktur kehidupan masyarakat pribumi yang ada, maka mereka berani mengorbankan barang dagangan mereka asal saja penduduk kehadiran agama Islam yang mereka sebarkan.

Berbagai motivasi serta argumentasi yang dikemukakan oleh para penyebar agama ini, terhadap kepercayaan yang dianut oleh penduduk setempat, membuat mereka merasa yakin akan kebenaran agama baru ini. Agar bisa menarik perhatian penduduk, kedua orang ini meminta izin dari raja Amaika untuk membangun sebuah mesjid yang representatip.

Gedung yang dibangun ini, bentuk kuhabahnya berhaya arsitektur ke islaman membuat nama raja Suria Samar lebih populer. Tanpa disadiri, Suria Samar sebagai penguasa negeri ini menobatkan dirinya sebagai Sultan Amaika yang berkuasa, setelah menyatakan diri beserta selurub keluarga istana memeluk agama Islam. Tidak mengherankan, dengan kemagahan yang ada membuat masyarakat Amaika menyatakan diri masuk agama Islam.

Dengan terbukanya pintu Amaika bagi masuknya kebudayaan asing, serta keangkuhan Suria Samar, membuat rasa ketidak senangan didalam kehidupan keluarga keturunan Hatua Tua Sinau, khususnya: Kohurupun, Patina Pasala dan Tua Sinay. Agar perpecahan persaudaraan ini tidak sampai merambat keluar, maka secara diam-diam mereka masing-masing mencari jalan sendiri –sendiri.

Kohurupun pindah ke Aman Huhui, Patina Pasala ke Hatua selanjutnya ke Uru Wane (Huruwano) sedangkan adik mereka termenung memikirkan nasibnya. Menjawab pertanyaan kedua kakaknya, sang adik mengatakan: Mim wahe nia au tupa ti e kuru wawone to, au kupa wato – e.

____________________________________

*) Kamu lihat saja, kalau tombak ini jatuh dimana, disitulah saya tinggal.

Sambil berbicara, Tua Sinay melemparkan tombaknya lalu dia mengukutinya sampai ke Boria (Seram Utara) catatan: kembalinya sampai ke Boria, merupakan realisasi dari janji leluhur mereka (Latu Ume) sewaktu berpisah dengan saudara-saudaranya di Nunusaku lewat tembang sebuah kapata (pantun): Uru Latu-e, Latu bangsa Ite-e; kuru he e Nunusaku, hari hari ke puna saku) keangkuhan Suria Samar yang berkelanjutan dengan perpecahan dalam keluarga, menyulut api kehancuran dalam marga Sinay, khususnya terhadap kejayaan Amaika sendiri.

____________________________________

*) Raja-e, kita ini bangsa raja; turun dari Nunusaku kapan kembali kita bersatu.

Kapitan Tua Saya Laki-Laki Perkasa

Misi perjalanan kapitan Tua Saya

Kerajaan Amaika dengan kejayaannya masa lampau, sering disebut dengan nama: Mosol

Amaika ini oleh penduduk pribumi di nusa Hatu Haa, sudah tersiar.tersebar ke daerah seberang bahkan sampai ke Nusa Ina.

Nun jauh disana tepatnya dipedalaman Nusa Ina (kampung Wae Tui), seorang anak muda dengan menyandang predikat Kapitan sedang mempertimbangkan kenearan ceritera tentang kejayaan Amaika serta mesjidnya yang megah itu. Dia adalah: Latu Malesi Halawan Tuni Tua Saya. Dalam panggilan akrabnya: disebut Kapitan Tua Saya.

Sementara mencari-cari kebemaram ceritera itu, ia mengambil keputusan untuk datang dan menyaksikannya dari dekat. Melalui pendekatannya dengan beberapa saudarannya, mereka.

Dengan sebuah rakit mereka menyusuri wae Tala sampai ke pesisir, tepatnya disebuah kampung yang bernama Latu-Hua-Loi; ditempat ini, salah satu dari seorang saudara/teman merekan-rekannya. Rombongan yang sisa ini melanjutkan misi mereka ke arah barat menujun ke sebuah kampung yang bernama: Tihuraloi (Tihulale sekarang).

Ditempat ini sejauh mata memandang, dikala senja tiba dengan terpaan sinar suria yang lembut menyapu kubah mesjid yang berwarna kekuning-kenungan dikejauhan, membuat persona setiap insan ingin memandangnya; setiap kali mata memandang terasa ada sesuatu yang tersembunyi dibalik itu semua.

Justru itu membuat tekad anak muda ini lebih kuat lagi untuk datang menyelidikanya dari dekat. Disaat mau meninggalkan Tihuraloi, hal yang sama yang dialami oleh rombongan ini sewaktu di Latu-Hualoi, terulang lagi; yaitu salah seorang saudara diantara mereka mengambil keputusan untuk menetap di Tihuraloi (dia bernama Tualena).

Didorong oleh semangat yang membaja serta rasa ingin tahu,

Rombongan yang sisa melanjutkan perjalanan mereka menyususi pantai Timur nusa Hatu Haa dengan rakit ditengah-tengah hempasan ombak dan gelombang sera badai yang mengamuk. Tak

____________________________________

*) Mosol = Suatu daerah/lokasi agak gelap, karena dikelilingi dengan hutan rimba.yg.lebat

Kalau tempat/bekas rakit ini mau diabadikan sebagi bukuti sejarah,

Disangka-sangka, rakit mereka dihempaskan oleh ombak dan terdampar ditepi pantai (tanjung Kulor) sekarang; Mungkin karena kecapaian karena diterpa badai dan gelombang, maka salah seorang rekan mereka yang bernama: Latumahina tidak mau lagi meneruskan perjalanan dan ia memilih jalan sendiri, Setelah beristirahat sejanak, mereka (kapitan Tua Saya dengan kedua saudarannya) melanjutkan perjalanan mereka menyusuri selat Saparua dan rakit mereka lagi-lagi terhempas disalah satu tempat yang ditak jauh dari kampung/desa Haria sekarang. Di tempat ini juga salah seorang rekan mereka yang bernama Hattu minta diturunkan karena tidak ingin lagi untuk melanjutkan perjalanan. Sambil duduk beristirahat dia kedua saudaranya yang mengamuk menyeberang kearah selatan nusa Hatu Haa. Tempat dimana Hattu duduk itu diberi nama: Hatu Walane. Untuk kapitan Tua Sa-ija-tidak ada pilihan lain; kerobos kepedalam menyaksikan kejayaan kerajaan Amaika. Disaat kedua bersaudara ini termenung memikirkan kampung halaman yang mereka tinggalkan dengan penuh kelimpahan kehidupan, tiba-tiba mereka terjaga, karena rakit mereka terhempas memberntur batu karang; disela-sela kabut pagi yang menyelubungi daerah sekitarnya, mereka masih dapat melihat hamparan pasir putih bagaikan bulan sabit yang melengkungi daerah itu. Keduanya berkemas untuk naik kedarat, namum mereka dikejutkan dengan hamparan semacam biota laut yang berduri lagi beradun disekitar daerah itu membuat mereka menggeser kearah timur daerah tersebut; setelah mereka menarik rakit mereka itu ada semacam karang karang tetap dalam keasliannya.

____________________________________

*) Nae = semacam biota laut yang sampai sekarang ini masih ada pada muslim-muslim tertentu. Ira = besar atau banyak. Di Naeira ini sekarang sudah di bangun sebua-h perkampungan baru bagi sebagian penduduk negeri Aboru

Kalau tempat/bekas rakit ini mau dibadikan sebagi bukti sejarah, mungkin bisa saja; namum barangkali bisa ditemukan sisa-sisa peninggalannya jang kuran berarti, sebab bisa saja termakan waktu karena sudah ratusan dijadikan seba-gai kebun rakyat; tetapi jelas tempat/jalur itu bisa diketahui dengan pasti. Tempat yang mereka singgahi itu bernama: Wokurui. Setelah beristirahat beberapa waktu, mereka berdua (Kapitan Tua Saya dengan adiknya yang bernama Suria) itu mereka menyusup masuk agak ke pedalaman untuk mencari tempat yang agak tinggi guna membangun tempat tinggal mereka. Tempat yang mereka usahakan itu diberi nama: Latusaman

Usaha mengenal lingkungan serta mencari informasi.

Seba-gai pendatang baru, dibumi Hatu Haa ini sang kapitan, harus bertindak dengan hati-hati dengan penuh perhitungan, yaitu harus mempunyai strategi. Yang matang bersama adiknya, Suria, Mereka membagi tugas; Suria bertugas melacak informasi dan sekaligus mengenal lingkungan disekitar perkampungan gagian pesisir; sedangkan Tua Saya menjelajahi bagian tengah sampai ke Barat. Dari hasil pemantauan berdasarkan informasi dan sekaligus mengenal lingkungan disekitar perkampungan gagian pesisir; sedangkan Tua Saya menjelajahi bagian tengah sampai ke Barat. Dari hasil permantauan berdasarkan informasi yang diterima baik dari raja Amaika, jelaslah bahwa:

Tanah yang dia berpijak sekarang adalah daerah kekuasaan/kewenangan Latu Kohurupun/ yang berdiam di Aman Huhui Tua Sinay menyangkut apa yang ada di benaknya tentang kota Amaika, semuanya lebih jelas lagi.

Dari hasil kekunjungannya kebarat, ia bertemu dan berkenalan secara muka dengan muka dengan seorang yang bernama kapitan Tua Nahumury, yang pernah berkomunikasi dengannya melalui pengiriman tombak dari ketempat tinggal masing-masing (AmaMahina dan Latusaman. Catanan: Kapitan Tua Nahumury adalah salah seorang anak dari Sultan Bone. Bernama 5 (lima orang adik/saudaranya, mereka meninggalkan Bone (Sulawesi) mereka berlayar kedaerah ini kearah utara melalui Ternate dan selanjutnya ke selatan menyusuri pantai Seram Bagian Selatan. Kelima adiknya ada yang menetap dikampung-kampung di Nusa Lau haha lainnya serta ada yang menetap dipulau Ambon (Waai dan Tulehu) sedangkan Tua Nahumury terakhir mendarat di Nusa Hatu Haa tepatnya disuatu tempat yang bernama Nahai, pertuanan Aboru. Ia (Nahumury) menyusup masuk agak kepedalam dan membangun tempat tinggalnya disuatu tempat yang bernama Ama Manina, Untuk mengetahui apakah sudah ada orang yang lebih dulu datang di da-erah ini, maka ia mergigimkan tombaknya kearah Timur dan terpat jatuh dikediaman kapitan Tua Saya di Latusaman; dengan inilah terjadi komunikasi antara kedua pendatang baru ini.

Pertemuan dengan Latu Kohurupun Tua Sinay.

Melalui pengkajian informasi yang selama ini diterima baik yang ia lakukan sendiri maupun dari adiknya Surya, maka Kapitan Tua Saya mengambil keputusan untuk mengadakan kunjungan resmi secara khusu sera melaporkan kedatangannya di Nusa Hatu Haa ini. Sesuai rencana, dari Latusaman kapitan Tua Saya menuju ketempat kemiaman Latu Kohurupun Tua Sinay di Aman Huhui. Disini ia disambut dengan rasa hormat dan senang hati oleh Latu Kohurupun. Dengan penuh hormat kapitan Tua Saya melaporkan kedatangnnya serta menyampaikan niatnya unuk berkunjung ke kota Amaika, serta melaporkan pertemuannya dengan Kapitan Nahumury dibagian Barat sewaktu ia menjelajah daerah tersebut. Dari Latu Korurupun, Kapitan Tua Saya mendapat banya informasi serta penjelasan menyangkut daerah kekuasaan kewengan secara turun temurun sampai kepada Korurupun sebagai pewaris marga Tua Sinay daerah ini. Setelah puas dengan berbagai informasi yang diterimanya, Kapitan Tua Saya mohon diri serta membawa amanat untuk menjemput Kapitan Nahumury menghadap sang Latu dikediamannya. Sebagai pengemban amanat, Tua Saya menjemput Kapitan Nahumury dikediamannya. Pertemuan ketigah tokoh ini yang merupakan pertemuan segitigan ini, membuka era baru untuk pengembangan tuhas dimasa-masa yang akan datang. Sebagaimana lazimnya menghormati tamu, Latu Kohurupun menjamu kedua tamunya dengan sirih-pinang yang seharusnya dengan tempat sirih (Puan) menurut tradisi keranjaan, namun disaat itu keadaannya berbalik; suguha itu diletakkan diujung pedang/parang dan narue giterima dengan ujung pedang/parang dari menerima suguhan itu. Ketiga suguhan yang diterima melalui ujung pedang dari Kapitan Nahumury, berobahlah sirih-pinang tadi menjadi seekor ular bisa yang dalam bahasa disebut: Manalat melihat kenyataan demikian, kedua kapitan itu saling beroandangan, namun sang Latu berkata dengan penuh wibawah serta gaya khas seorang raja: ‘’Alle Tua Saya, Alle Kupa Wa Auweleu Awina Ti’’ Giliran Tua Saya menerima suguhannya, tidak terjadi apa-apa; dengan demikian Latu Kohurupun memberi tugas kepada kedua kapitan sebagai berikut: mengingat daerah ini terlalu luas, mka untuk menjaga keamanan/kertiban Kapitan Nahumury ditugaskan di bagian Barat, sedangkan Kapitan Tua Saya nebdaoat tugas dibagian Timur, dan sekitarnya. Bagi Kapitan Tua Saya ucapan Latu Kohurupun tadi mempunyai arti tersendiri dalam benaknya; (Alle Tua Saya Akke Kupa Wa Auweleu awina ti). Ini berarti bahwa ucapan tadi bisa mewujudkan cita-citanya baik masa sekarang maupun masa medatang.

Pintu Kerajaan Amaika Terbuka Lebar

Ternyata, usaha anak muda asal Wae Tui ini tidak sia-sia; ditambah lagi dengan arahan dari Latu Kohurupun untuk mendatangi raja Suria Samar dengan istananya. Dalam kunjungan perdanya, Kapitan Tua Saya disambut dengan ramah dan penuh hormat mulai dari pengawal/penjaga pintu gerbang, maupun pihak pengawal istana raja. Sebagai orang yang berasal dari pedalaman dengan keaslian beduyanya, Tua Saya tertegun menyaksikan kenyataan-kenyataan yang ada serta didukung dengan ceritera-ceritera didalam kerajaan sendiri. Satu kejadian yang tak disangka-sangka, tatkala 2 pasang mata saling beradu pandang, membuat darah anak muda ini bergejolak didalam dadanya. Ternyata sorot mata dari sosok tubuh yang ada dihadapannya adalah se orang putri yang sangat cantik, salah satu dari

_________________________

*) Kalau bergitu, kau duduk disebelah kiri-kul. *) Kau Kapitan Tua Saya, kau duduk disisi kanan-ku

Kedua orang putri anak raja Suria Samar; putri yang sulung ini bernama Samar Kinar. Disaat pertama 2 pasang mata saling beradu pandang, bersemilah benih-benih cinta didalam dada masing-masing. Kelanjutan dari peristiwa ini membuat Kapitan Tua Saya sering berkunjung, baik secara resmi di istana maupung di hari-hari pasar saat ke kesihnya itu datang kermalanja, atau sering terjadi pertemuan di tepian tempat mandi keluarga Sultan di Wae Hutete.

Perasaan Cinta Berobah Menjadi Dendam

Disuatu malam sebagaimana biasanya, Kapitan Tua Saya datang berta-mu, sebelum masuk pelataran istana ia dikejutkan suara raja Suria Samar membicarakan hubungan cinta anaknya dengan pribadi Kapitan Tua Saya. Dengan nada suara kasar, sang raja berucap: Au Panono Ke, Alle Ya Poum Kura Hantai Malona La Hahai Tana; Malona To Tabisasa/Repe Anemmu Rupanauke Ite Wati.nai Repe Utameite, Patua Laha Ukure Wa-a Alle Anelle; Kalo Hatoto Na Haum Ukure. Ei bagi Kapitan Tua Saya, kata-kata raja Suria Samar tadi merupakan penghinaan atas dirinya; bagaikan anak panah lepas dari busurnya, Kapitan muda ini melejit pulang ke Latusaman menemui adiknya disana seraya membawa segumpal dendam, bagaikan sebuah bom yang bisa meledak setiap saat, di saat-saat tertentu tatkala ia menyendiri, terlin taslah kata-kata raja Suria Samar menghantaui benaknya membuat dia balik bertanya, misteri apa yang tersembunyi dibalik kemengahan dan kejayaan Mosol Amaika disana, yang harus disimak dengan kekerasan?Belum habisnya halyang satu ini, muncul lagi kata-kata Latu Kohurupun, seakan-aka-n membakar semangat mudanya untuk segera bervertindak. Dalam keadaan demikian, timbul semacam kepas-tian dari naluri kesaktiannya mengatakan bahwa: kalau tokh saya harus bertindak, pasti Latu Kohurupun akan berpiha-k kepada saya. Inilah yang membakar semangat Kapitan Tua Saya kian menjadi-jadi untuk memhalas dendam kepada raja Suria Samar.

__________________________

*) beta dengar kau akan kawin dengan anak-lelaki yang tinggal dipantai sana; anak itu tidak bisamenberi makanan kepadamu seperti yang ada disini; dia akan berikan makanan seperti arieng (sejenis sa-yur laut), bia, dan ikan gotana untuk kau makan; kalau bogitu nanti kau berbau anyet/manis.

Perhitungan Jiwa Sebagai Faktor Penunjang

Melihat kepada tingkah laku serta sepak-terjang kapitan asa-l Wae Tui ini, mungkin ada semacan moto didalam dirinya: ‘’Muda Dalam Usia, Dewasa Dalam Bertindak’’ inilah yang membuat dia menghadapi segalah sesuatu dengan penuh perhitungan serta menghadapo serta mempunyau strategi yang matang. Guna me-ngetahui dengan pasti jumlah jiwa di kota Amaika khusus prajuritnya, maka perlu adanya penanganan yang serius serta terencana. Agar rencananya tidak tersiar keluar, termasuk untuk adiknya (Surya). Maka secara diplmas. Ia mengatakan: kebutuhan garam dipasar Asallaloi mempunyai prospek cerah; terutama kebutuhan pendukuk primbumi kota Amaika. Untuk itu kita perlu memasak garam. Sebagai seorang adik yang setia, dengan gesitnya ia mempersiapkan sarann penunjang termasuk persediaan kayu bakar di suatu tempat yang bernama Naeira untuk maksud tersebut. Disana mereka berdua bekerja siang malam tanpa mengenal lelah, asal saja cita-cita sang kapitan bisa tercapai. Di sela-sela kesibukan sang kapitan mempergunakan waktu luang untuk datang ke Amairaa menghadap raja Akihary yang punya pengaruh cukup besar terhadap negeri-negeri didaerah sekitarnya. Dengan kelihaian kapitan Tua Saya, ia bisa mempengaruhi raja Amairaa sehingga dapat memberikan bantuan tenaga apabila diperlukan. Dengan maksud yang mana, ia menuju kebarat mememui Kapitan Tua Nahumury dan kapitan Nahumury bersedia membantunya. Dengan segera Kapitan Tua Saya kembali mememui adiknya yang sedang bekerja penuh semangat . setelah dilihatnya bahwa hasil yang dicapai bisa memenuhi target maka dengancermat keduanya membuat kemasan untuk garam yang akan dijualnya kepasar. Kemasan yang dibuat itu berbentuk kerucut dari daun tasbeha, serta tulang daun sagu dipersiapkan sebagai lidi guna dijadikan bahan penghitung jiwa pada saat perjualan garam berlangsung. Setelah selesai, berangkatlah mereka menuju pasar. Melalui bantuan seorang perempuan yang lebih mengetahui seluk-beluk keadaan pasar serta daerah sekitar keraton, ma-ka Kapitan Tua Saya menganjurkan bawha setiap jiwa (Mulai dari yang beruban sampai kepada balitanya) hanya diperkenankan membeli/memiliki satu penco garam, dengan alasan bahwa persediaan garam sangat terbatas. Didalam pelaksanaan penjualan, tetiap orang yang membeli, Kapitan Tua Saya memasukan satu patahan lidi kedalam tempat yang diselakan khusus untuk itu. Hal ini dilakukan terus-menerus selama penjualan garam berlangsung sampai selesai. Sekembalinya mereke ke tempat memasak garam dianjurkan kepada adiknya supaya mau memasak garam lagi, karena persediaan kayu bakar masih tersisa; dengan demikian ada kesempatan kepada Tua Saya untuk bertindak lebih lanjut. Kesempatan ini digunakan oleh Kapitan Tua Saya untuk menyeberang laut guna meminta bantuan, tujuan pertamanya menjuhu ke Booi; disana ia diterima dengan baik oleh Kapitan Hatu Supi seraya meneruskan perjalanannya ke Latu-Hualoi; atas persetujuan raja Latu, maka ditunjuk dua orang kapitan dari Hualoi, masing-masing bernama: Rusi dan Tubaka untuk membantu; Kemudian Kapitan Tua Saya berpesan bahwa ia akan kembali pada kesempatan berikutnya untuk menjemput bantuan yang sudah disepokoti bersama Dengan segera Kapitan Tua Saya kembali ke Naeira menemui Suria adiknya yang terus saja bekerja.

Melihat hal demikian Tua Saya mengajurkan kepada adiknya supaya beristirahat di Latusaman karena sudah terlalu banya bekerja. Seme-ntara adiknya pulang ke Latusaman, Tua Saya pergi lagi untuk meminta bantuan dari Kapitan Tua Salai dari kariuw guna mencukupi bantuan yang sudah dimenta terdahulu, sehingga berimbang dengan jumlah jiwa Amaika. Permintaan ini di sanggupi oleh Kapitan Tua Salaoi sehingga Kapitan Tua Saya menetukan waktu pertemuan mereka. Sambil kembali pulang Kapitan Tua Saya menghampiri Kapitan Nahumury dan raja Amairaa untuk memberitahu kepastian waktu dan tempat mana harus mereka semua berkumpul. Setiba di tempat kediaman mereka di Latusaman, kedua kakak beradik melakui pekerjaan rutin mereka masing-masing. Sementara Suria (adiknya) sibuk dengan tugasnya, sang kapitan ini bergegas menyeberang ke Latu-Hualoi dan ke Booi menjemput bantuan yang sudah disepakati berberapa waktu lalu. Secara bersama-sama mereka semua tiba di Naeira, tepatnya dipantai Alohihai, dimana dombongan/bantuar dari Kapitan Nahumury dan dari Amairaa sudah menunggu: hanya yang belum tiba a-dalah bantuan dari Kapitan Tua Salai dari kariuw. Sambil menunggu kedatangan bantuan Kapitan Tua Salai, maka Kapitan Tua Saya menganjurkan agar mereka bergeser ke daerah yang dira-sa aman dari pandangan umum, karena daerah Alohihai berdekatan dengan Posnain.

Pecahnya Perang Amaika, Tahap-Tahap Konsolidasi Pasukan. Daerah Alohihai.

Bertolak dan moto: muda dalam usia dewasa dalam bertidak, membuat anak muda asal Wae Tui ini mampu dalam meng ditempat yang cukup aman ini, Kapitan Tua Saya dan Kapitan Tua Nahumury menjelaskan duduknya persoalan sehingga perlunya diadakan penyerbuan ke Amaika. Secara aklamasi, Kapitan Tua Saya ditunjuk untuk meminpin penyerbuan; kemudian, semua pasukan disaring/ditest kemampuan serta kesaktian masing-masing. Ditempat inilah pada pertama kalinya seluruh pasukan diuji/disaring; sehingga tempat dibernama ‘’Rina Uria’’

Daerah Hurunmatupa uwei.

Mengingat waktu, pasukan diminta untuk bergerak menuju ke Utara dan bersistirahat menunggu kedatangan bantuan bawah sepohon kayu ‘’Melen’’ yang tumbuh dengan rindangnya. Semua peralatan perang pasukan diletakan dibawah pohon itu, kecuali tombak para kapitan ditancapkan pada batang pohon melen itu. Selesai mendapat arahan dan petunjuk disaat akar menghadapi penyerbuan, pasukan diminta mengunggu dan beristarahat. Kapitan Tua Saya dan Kapitan Nahumury segera menghadap Latu Kohurupun dikediamannya di Aman Huhui (kohurupun) adalah penguasa tunggal didaerah pertuanan Aboru, termasuk kota Amaika. Dalam laporannya kedia kapitan ini menjelasan bahwa: Sultan Amaika dan keluarga istana serta rakyatnya sudah masuk Islam; penghinaan/pencemaran nama baik pribadi Kapitan Tua Saya meminta kehadiran Latu Kohurupun untuk menghadiri peryerbuan ke Amaika. Sebagai seorang pemimpin yang penuh kharisma dan berwibawa serta dihormati didalam petuanan Aboru termasuk Suria Samar saudaranya, berliau lebih tahu dan mengerti apa maksud ka-pitan Tua Saya dibalik itu semua sehungga ganti menjawab, beliau mencucurkan air mata, pertanda tidak setuju dengan kehadiran beliau. Melihat hal demikian Kapitan Tua Saya berkata: Upu Waem Matai-e Manahu To Auw Kewale; Kalo Hato-o, Lepe Anam Malona Sa Ei Oi Kura Auw. Untuk menjaga hubungan baik, Latu Kohurupun berkata: Auw Ta Woisa, Hantai Malona-ti Oi Kurai; Jagai Rupa Nauke Matam Hatui. Awu Saka Ya Ale-o, Ale Saka Ya Auw Uma. Selesai kedua kapitan ini memberi laporan, mereka mohon diri serta membawa anak laki-laki dari Latu Kohurupun yang bernama Latupau Tua Sinay Menemui pasukan di Hurun matupauwei. Tempat pasukan beristirahat serta mendapat arahan-rahan ini untuk kedua kalinya dibawah pohon Melen tsb. Dinamai Hurunma-tupauwei. Pohon dimaksud, sampai sekarang masih hidup, terapi dalam kondisi: ‘’Mati Enggan, Hidup tak sudi’’. Pohon ini akan menjadi saksi bisu dalam sejarah perang Amaika.

Daerah Hatu Sapi.

Dari Hurunmatupa uwei, pasukan bergerak ke Utara, menlalui jalan-jalan rahasia yang ditentukan oleh Kapitan Tua Saya menuju ke Hatusapi. Seraua menunggu kehadiran pasukan di istiraha-tkan sambil memakan perbekalan; selesai makan pasukan diberi pentunjuk-pentunjuk serta teknis pertempuran. Di Hatusapi ini, pasukan ditest/disaring ulang lebih teliti karena tidak semua pasukan yang akan masuk kedalam kota; yang masuk adalah mereka yang merupakan pas-ukan elite bersma-sama para Kapitan, (Tua Saya, Nahumurym Rusti,Tubaka,Hatu Supi). Inilah testing terakhir bagi pasukan. Selesai testing, pasukan dibagi pada pos-pos masing-masing: Pasukan Hualoi, menduduki pos mulai dari Hatusapa sampai ke daerah Hatukuda. Pasukan dari Booi menduduki pos dari hatukuda sampai kedaerah Ohan. Karena bantuan dari Kariu belum juga tiba, maka pos

________________________

*) Air mata tuan yang jatuh itu beta sudah tahu; berikan anak laki-laki satu untuk ikut beta. *) Beta tidak ikut, ini anak bawa dia, jaga dia seperti biji matamu. *) Beta sudah tolong kau, kau harus tolong beta. *) Hurun-alang-alang, Tupa = Tombak.

Maseng/matempati oleh pasukan dari Aboru, mulai dari Osa sampai ke daerah Amiuwa. Sedangkan dari Ohan sampai ke lima kapitan menjaga pintu gerbang kota Amaika. Untuk menuju pos masing-masing, kajatar Tua Saya beroesan: Imim-i Waka Tio, pananono, wawahe ke, palalai awa-o, tahuria hola, laha saoure etoto tihi prang te; imimi hoka heri naim nusu Amaika-e. Sambil beristirahat, pasukan pilihan ini bertanya: menjawab: Imimi panono muma-e kenu, ahune muru, wahe pele-e kita lau-lau, mane-ke nusu. Kembali mereka bertanya: Ehe nala iteke nusu usese hoka panira esi taheura, ke esise hoka la ola asalle. Kapitan Tua Saya berkata kalo hato-o na awu nau ke. Sambil berkata Kapitan Tua Saya melakukan mawe dengan menjengkal pergelangan tangannya lalu berkata: Hamoi ti taha waisasa hoka; lotoise kupa mese-mese.

Detik-detik penye-rbuan

Setelah kendengaran isyarat dari pos-pos bahwa suara burung dan fajar menyingsing, Kapitan Tua Saya meraih tomabaknya, yang terkenal salti itu, dilemparkannya kedalam kota tepat terancap ditengah-tengah baeloi (Rumah adat); berbarengan dengan tomabak melayang, pasukan pilihan beserta para kapitan menyerbu masuk. Tombak kapitan yang terkenal dengan kesaktiannya itu membuat semua orang dalam kota yang sudah terjaha menjadi terpana (yang sedang duduk, berdiri, atau sedang melakukan apa saja dipagi buta itu) berada dalam keadaan tak sanar diri), membuat pasukar penyerbu melaksanankan tugasnya memenggal kepada anak balita. Kapitan Tua Saya menjuju sasaran istana sultan; disana ia bertemu dengan sultan Suria Samar yang sedang berdiri mengablil air sembangang subuh, tak bergerak. Dengan penuh dendam kepala Sultan dipancang oleh Sultan. Bertepatan dengan

_____________________

*) Kamu berjaga-jaga, lihat pagi tiba, dengar tahuri dan hura-hura segera masuk kota. *) Jam berapa kita akan masuk. *) jangan sampai kita masuk mereka keluar pergi panila dodeso atau mereka pergi kepasar. *) Kalau begitu nanti beta mawe *) Sebentar nanti, mereka tidak akan keluar; mereka akan tinggal/duduk seluruhnya.

Dengan keadaan yang kritis itu, muncul sosok manusia (seorang gadis) munggil yang mempesona dibaluk gauw malam, datang menubruk sang kapitan seraya bersimpuh memeluk kaki kapitan meohon ampun: dia tidak lain dari putri sulung Sultan yang bernama Samar Kinar kekasih kapitang yang tidak direstui perkawinannya dengan kapitan Tua Saya. Membalas mohon ampun sang putri, Kapitan Tua Saya berkata: ‘’Tagal Alle-o, Amam-mu Hua Aib Wa Au’’. Langsung kepala Samar Kinar dipancung. Setelah terasa bahwa semua orang dalam kota sudah terbunuh, maka diperingtahkan untuk meniup tahuri (kulit bia) serta hura-hura memberi isyarat kepada para pasukan yang ada di pos masing-masing untuk masuk kedalam kota. Ketika semua pasukan hadir, diperintahkan untuk menghitung kepala-kepala yang sudah di pancung supaya disesuaikan dengan patahan lidi yang tersisa satu patahan lidi; melihat hal demikian, semua pasukan dikerahkan untuk mencari orang diperkirakan lolos dari pengepungan pasukan. Dengan naluri kesaktiannya, Kapitan Tua Saya menyuruh membalikan sebuah tifa yang tersandaar tenang disudut ruangan karena beliau tahu bahwa orang dimaksud belum: sempat lolos; ternyata dari balik tifa itu mencul seorang putri jelita penuh rasa taukt terbayang diwajahnya yang cantik dipagi itu membuat semua yang hadir merasa tergoda bercampur rasa kasihan. Disaat menculnya itu, Kapitan Tua Nahumury menghunus pedangnya untuk memancung kepala putri itu naman dibatalkan oleh Kapitan Tua Saya sambil berkata: Kahe-ei Wa-an Bagian-sa. Bertepatan dengan itu, muncul Kapitan Tua Salai dengan pasukannya. Dalam haldemikian, Kapitan Tua Saya berkata lagi kopada Kapitan Tua Salai: Tahan Yel-sa, Halae Mae; Alle Kawa-ti-o, Na Tuhu Prang Pela-i-e suasana pagi yang masih diliputi ketenangan itu tiba-tiba berobah menjadi gembira ditandai dengan bunyi-bunyian beraneka tagam dari benda-benda yang dipukul disertai Tjakalele dan tarimenurut versi masing-masing orang yang dilanjutkan dengan hura-hura serta kapata/pantun: ‘’Riti Riti Sobo, Sobo Riti Hola Hola, Hola Roto Rita Bidadari’’ ternyata yang mencul dari dalam tifa itu adalah adik Samar Kinar yang bernama Kamal Hua Kinar, alias Siti Sula Salendang Ratu alias Nenek Luhu.

__________________

*) Karena kau, ayahmu membuat aku malu. *) Biarkan dia untuk satu bagian lagi. *) Pukul-pukul tifa tifa e babunyi dari balik tifa, muncul bidadari.

Runtuhnya kota Amaika, bukan saja manusianya yang menjadi sa-saran tetapi seluruh kota, istana, bahkan mesjid, dibumi ratakan; hanya yang sempat diselamatkan adalah benda-benda yang mempunya nilai historis berupa: tempayang, tifa, gong, lonceng (genta) tempat sirih (puan), pelita 9 sumbu, kubah mesjid, 2 (dua) buah [atung dan lain sebagainya; barang-barang jarahan ini dalam bahasa disebut: Wakal; serta putri kamal Hua Kinar. Sambil beristirahat ada yang mengusulkan supaya jarahan ini dibagi; namun bagi Kapitan Tua Saya sudah mempunyai konsep tersendiri dalam pikirannya sehingga beliau berkata: Waka-a Ti Ehe Pasimsamal Wati-i Mae Ke Pekire Loto In Tahusa; Maneke Pasimsamal-e. Semua orang disuruh membawa jarahan dimaksud termasuk kepala Sultan serta darahnya yang tertampung didalam timba dam putri tersebut, mereka menuju ke negeri Hatua (Aman Hatua) negeri kelahiran almarhum Sultan Suria Samar. Setibanya mereka di Aman Hatua, mereka beristrirahat tidak jauh dari tempat keramat (baeleo) negeri Hatua, mereka beristrirahat tidak inilah jarahan tadi dibagi-bagikan: Hualoi: mendapat tempayang Booi: mendapat lonceng (genta) Aboru: mendapat kubah mesjid, tifa, gong, dua bh, patung,pelita 9 sumbu, tempat sirih (puan) dll. Sebagainya. Kariu: mendapat pucil Kamal Hua Kinar; dengan janji dari Kapitan Tua Saya sebagai berikut: Alle Tua Salai, Alle Takupusa Wakal-e; Mehina Anai Malopi-i Ti Piri-i Wa Ale; Jagai Rupa Nau Ke Em Reu Mahina; Ehe Poum Kurai; Alle Kawa Tihi Pramg Pela-i-a.

Perang Amaika sudah berakhir; seluruh kejayaan kerajaan Ama ika dengan sultannya tinggal kenangan menjadi puing-puing berserakan pertanda tindakan balas dendam Kapitan Tua Saya pun sudah selesai; dengan kemenangan dipihak Kapitan Tua Saya berserta rekan-rekan seprofesinya (Kapitan Tua Nahumury), Kapitan Rusi dan Tubaka dari Hualoi, dan Kapitan Hatu Supi dari Booi) membuat tanda tanya: apakah darah-darah yang tidak bersalah yang sudah bercucuran membasahi persada Nusa Hatu Ha-a bagian selatan khususnya Amaika, tidak akan membuat kias balik terhadap ulah dan egois me sehelincir manusia yang ingin berkuasa dan didaulat?

Apa-kah peristiwa berdarah ini yang sudah menodai daerah kewenangan/kekuasaan Latu Kohurupun dengan marganya akan dibiarkan berlalu begitu saja tanpa ada pembuktian historis yang bisa dijadikan sebagai bahan ingatan kepada generasi penerus? Dalam hal ini, bagi Kapitan Tua Saya dapat dimengerti dan dapat diantisipasi sesuai cara berpikirnya yang brilian itu. Ia sudah merencanakan sesuatu dan akan melaksanakannya melalui sebuah sumpah. (catatan: khusus mengenai jarahan perang milik Aboru yaitu 2 bh.patung dan kubah mesjid.): belakangan setelah negeri Aboru dibangun ditempatnya sekarang ini dan sudah memeluk agama Kristen, maka ke dua patung itu masing-masing yang satu bernama: Ka-isu0ri Asawari ditanam disuatu tempat yang bernama Hahu Aman dan yang satu bernama Peisuri dibuang kelaut berdapan dengan suatu tempat yang bernama Oko yang tidak jauh dari negeri Aboru sekarang. Sedangkan kubah mesjid diletakan diatas sebuan rakit dan dihanyutkan kelaut. Rakit dan kubah ini terdamoar dinergeri Booi: namun karena Booi sendiri sudah menerima agama kristen, ma-ka rakit tersebut dinanyutkan lagi dan terdampar dipantai Hualoi karena Hualoi sudah lebih dulu memeluk agama Islam. Keda-tangan rakit bersama kubah mesjid ini membuat panik masua-rakat Hualoi karena dari jauh kedengaran bunyi tifa gong serta hura-hura diatas rakit tanpa manusia. Yang hanya dilihat adalah kawanan burung yang mengantar kubah tersebut. Dalam kepanikan yang ada, hanya salah satu marga yang bernama Tubaka berani menghampiri rakit tersebut untuk menerima penyerahan kubah tersebut dari burung-burung yang ada untuk dibawa kedarat. Selesai penyerahan kubah itu, maka lenyaplah rakit bersama burung-burung tadi dari penglihatan masyarakat Hualooi.

Terbentuknya Persekutuan Pela

Belajar dari pengalaman, Kapitan Tua Saya memikirkan dan merencanakan sesuatu untuk menjaga keluhuran hubungan baik ke empat negeri yang sudah diujudkan melalui partisipasi yang nyata. Selesai membagi jarahan-jarahan perang, pasukan disuruh mengambil tali dari kulit kayu Malawasi (Gaharu) untuk membuat lingkaran melingkari seluruh pasukan; kemudian kepala Sultan serta darahnya yang tertampung dalam timba digantung ditengah-tengah lingkaran, lalu semua orang dipersilahkan untuk memakan sirih pinang. Untuk maksud ini oleh Kapitan Tua Saya neminta Kapitan Tua Salai dari Kariu supaya menjamu semua orang dengan tempat sirih. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kapitan Tua Saya memanggil para kapitan lainnya untuk memoicarkan rencananya yaitu akhir dari perang ini perlu/ikatan hunungan diadakan suatu persaudaraan didalam suatu wadah uang disebut Pela melalui sumpah/janji uang bernafaskan sakral serta persyaratannya. Setelah mendapat kata sepakat, Kapitan Tua Saya membuang undi: dan undi mengena Hualoi. Dengan penuh pengertian kedua Kapitan Rusi dan Tubaka dari Hualoi menyerahkan salah seorang dari pembantu mereka yang dalam bahasa disebut Ata-a yang akan dijadikan sebagai dasar/alasam mengucapkan sumpah/janji. Guna terlaksananya maksud tersebut, mereka menggali sebuah kolam setinggi Ata-a tadi depat dibawah kepala sultan Suria Samar yang digantung dengan timba darahnya tadi serta disediakan juga sebuah batu karang. Setelah pembantu (Ata-a) tadi dimasukkan kedalam kolam, Kapitan Tua Saya memanggil ke-empat kapitan, masing-ma-sing: Nahumury, Rusi, Tubaka dan Hatusupi, mereka berlima berdiri menglilingi kolam yang berisi Ata-a tadi seraya mencelupkan mata tombak mereka kedalam timba yang berisi darah Sultan lalu masing-masing meminum darah sultan itu: dan sisanya disiram diatas batu-tadi.

Pengucapan Sumpah/janji

Selasai kelima kapitan meminum darah Sultan, maka Kapitan Tua Saya mengucapkan sumpah: Kerajaan Amaika telah diruntuhkan; semua manusia sudah dimumahkan, dan perang telah selesai. Diatas batu karang yang kohon ini saya menucapkan sumpah. Biarlah batu ini menjadi saksi disini dan ditempat ini. Kita minum darah sebagai persekutuan orang bersaudara dalam satu kerja sama bantu-membantu bukan hanya dalam peperangan ini, tetapi juga dalam susah maupun senang, membangun negeri dan rakyat keempat negeri. Sebagai kakak untuk adik-adik, sebagai orang bersaudara kita tidak boleh saling kawin – mengawini sampai turun-temurun; atau membuat sesuatu hal yang dapat menghancurkan semua orang bersaudara. Tetapi kau Kapitan Tua Salai yang disebut kapitan selatnaya, kau datang, perang sudah selesai; karena itu kau tidak mendapat jarahan perang; hanya putri ini boleh kau ambil dia tetapi tidak boleh kau mengawininya; jaga dia sebagai saudara perempuanmu. Dalam ikatan pela ini kau disebut Pela Tempat Sirih; sebab kami semua telah memakan sirih pingang dari jerih payahmu. Kau beserta seluruh rakyat negerimu tidak terikat sebagai orang bersaudara tetapi diterima didalam semua kerja sama, sebab kau telah menerima seorang putri dan turun-temurunmu diperbolehkan untuk mengawini bala rakyat kami. Diatas batu yang berlumuran darah ini saya bersumpah diha-dapan arwah-arwah Upu-Latu, Ina Ama; saya bersumpah demi Langit diatas dan Bumi Dibawah.. barang siapa yang melanggar atau merombak sumpah ini, dia dibungkus dengan daun pucuk kelapa didalam baeleo negeri selaku tanda kutukan serta diusir keluar tinggalkan negeri sampai turun-temurun. Barang siapa yang berani merombak sumpah tadi, berarti dia bisa menyatukan kedua belahan kepala ini; (samgil berkata demikian, kepala Ata-a tadi dibelah menjadi dua). Selesai mengucapkan sumpah kepala Ata-a tadi dibelah, maka lobang/kolam tersebut ditutup dengan tanah dan batu yang berlumuran darah tadi ditaruh diatas timbunan dimaksud. Dengan berakhirnya rentetan acara sumpah tadi, maka pasikan siapkan untuk meninggalkan tempat acara (yang disebut Sumpah Hatuapua) seraya membawa bagian jarahan masing-masing, serta membawa kepala Sultan Amaika (Suria Samar) menuju keselatan. Setiba mereka di Hatusapi tempat dimana mereka mengadapkan penyaringan pasukan inti dam pembagian pasukan, maka kepala Sultan Suria Samar dimasukan kedalam sebuah gua batu karang lalu mereka meneruskan perjalanan menuju kepantai. Sepanjang perjalanan, mereka bernyanyi diringi dengan bunyi-bunyian berbagai benda yang mereka pukul melempiaskan rasa kemenangan; setelah tiba didaerah Hurun matupaewei, pasukan beristirahat sambil menunggu Kapitan Tua Saya dan Kapitan Nahumury menghadap Latu kohurupun di kediamannya di Aman Huhui untuk mengembalikan anaknya (Latupau) seraya melaporkan selesainya perang. Dengan rasa haru, Latu Kohurupun melepaskan kepergian kedua kapitan tersebut, lalu pasukan diminta meneruskan perjalanan ke Alohihai; setiba disana mereka melepaskan keberangkatar para kapitan berserta pasukanya unuk nulan kenegeri masing-masing

Kesimpulan dan saran Kesimpulan

Sejarah terbentuknya pesektuan pela 4 negeri (bakh) berawal dari perang Amaika dan beakhir dengan terukirnya sumpah/janji yang dikenal dengan nama Sumpah Hatuapua. Ratusan tahun sudah berlalu, sejarah ini tinggai kenangan tanpa ada pembuktian tertulis yang bisa mengangkat sejarah ini kepermukaan. Kedatangan Kapitan Tua Saya dari Nunu Saku ke Nusa Hatu Haa, bukan sekedar untuk menyaksikan kejayaan kerajaan Amaika pada saat itu; tetapi lebih dari itu ada suatu rencana untuk ingin berkuasa dan didaulatkan bukan hanya kerajaan Amaika saja tetapi lebih daritu seluruh petuanan Aboru yang ada dibawah kekuasaan Latu Kohurupun Tua Sinay harus diambil alih. Hal ini terbukti dan sejarah memcatat, bahwa sesaat sebelum penyerbuan Amaika, kedua Kapitan Saya dan Nahumur datang menghadap latu lohurupun untuk meminta kehadiran beliau untuk ikut serta dimegan tempur. Sebagai seorang pemimpim yang punya wibawa dan penuh kharisma, beliausudah tahu membaca niat tidak baik dari kapitan Tua Saya, sehingga beliau tidak menyetupuji usul mereka. Kekalahan Sultan Amaika sampai dengan matinya ditangan Kapitan Tua Saya (kepalanya dipancung) merupakan penghinaan atas dirinya, karena ulah dan kesombongnnya menyulut apo peperangan yang membumi hanguskan Amaika itu sendiri. Dan inilah suratan yang Maha Kuasa. Bagi generasi sekarang, harus mempunyai tugas ekstra untuk melihat permasalahan yang ada. Bagaimana sejarah persekutuan Pela yang tinffal kenangan ini harus diangkat kepermukaan sehingga dapat diwariskan kepada generasi penerus yang akan datang. Meskipun tugas ini menjadi tanggung jawab 4 negeri, namun Aborulah yang harus lebih banyak berbicara dan berperan aktif dalam penysusnan sejarah persekutuan pela ini; pasalnya, baik peran Amaika maupun pelaksanaaan sumpah di Hatuapua terjadi dipetuanan Aboru sehingga Aboru lebih menguasai jalan ceriteranya apalagi Kapitan Tua Saya adalah panglima perang yang mengatur strategi. Sejarah mencacat, bahwa Kapitan Tua Salai diminta bantuannya, tetapi ternyata, setelah perang selesai, karulah Tua Salai muncul. Dalam hal ini, secara jujur harus dikatakan bahwa Tua Salai tidak terlihat dalam penyerbuan Amaika. Hal-hal yang bisa membuktikan Kapitan Tua Salai tidak berpartisipasi dalam perang Amaika ini antara lain: ucapan-acapan Kapitan Tua Saya kepada Kapitan Tua Salai Tua Salai tidak mendapat jahuran pelmas’ hanya meredapat putri dengan janji Kapitan Tua Salai tidak diikut sertakan memisum darah sulatan Suria Samar Kapitan Tua Salai mendapat hak-hak istimewa dalam sumpah/janji.

Bahasa melayu: —- Bahasa Tanah Aboru:

A

abu — hau matai

abis — use ele

ada — nanono / na-ewe (nawewe)

adat — nanahu

adik — wari (jamak: warin)

agar (supaja) — na-a-le

air — wael

air mata — mata wain / mato wae

air mulut malele— nukum wain e kupu

air tawar — wae tuni

air terjun — wael manahu

adjar — kopa / panau

ajam — manu

ajam laki, ajam pai— manu mantular

akal — huri

akar — akar ri / wa-ar

aku (beta) — au

alamat (tempat) — nain

alang-alang — weria

alas — nai

alasan — noit

ale (ose) — ale (jamak: alem)

alias — aha-nau

alis (kening) — iwal

almarhum — leu asal

almarhumah — mahina leu asal

amat — anaun

ambil — piri

amblas (labrak sambil habis)— pela ma-ise

ambor — rihu

amis — hau mana-mana / ukur

ampas — una-a

ampir — ampir ri

amuk (mengamuk) — palota

anak — anai

anak anak — anahutai

anak anak muda — anai huta op-i

anak laki — anai malona / malonanana’i

anak mantu laki laki — manu’a malona

anak mantu parampuang — manu’a mahina

anak parampuang — anai mahina / mahinana’i

anak sapi — sapi anai

anak sayang — anai palau u

anak tangga (trap) — elan huwai

ananas — unanasu

aneh (seng masuk di akal) — aha lahi

anggota — ana

angin — anin

angin darat — anin lamuri

angkat — hiti (jamak: hiti-i)

andjing — asu

andjing user — asu male it

antar-mengantar — kakura

antara — saleka

antara lain — ahanau

anugerah — anusan

apa — salo

apabila — anapo

api — hau

aringang — miki

arus — kalat

aros — talat

asam — marinu

asap — po-ot

asin — asele

asli — tuni

atap — ate-e / ate

atas — haha

- di atas — loto haha

atur — pahata

- mengatur — pahahata

aus — riti ape

awas — waka

ajam — manu

ajah (bapa) — ama

B

Bijangan – Rusa (binatang rusa)

E

E nye to – dia punya tu

Eta – ikat

Esi – Buang

Esi ele – buang akan

Eta pati – buah bicang

Ehe – jangan

Eke – pata

Eke po lawan – pata cenke

Esa – keringat

e e – ketiak

e e laloi – bau ketiak (bau badan)

Eni – bakul

Elan – tangga

e La LoLo – akang tinggi

H

Hahu – babi (binatang babi)

Hatu – batu

Hantai ti – anak ini

Hokai – lempar

Hi u – tendang

Hirun – hidung

Hirmatai – ulu hati

Ha nu – bangun

Hua – pinang (naik)

Hua nae – naik tidur

Hau – api

Haurasin – bara api (abu)

Hari – kembali

Hari minai – kembali kamuka

Hotu – pulang dari hutan

Huta – rumput

Herpalan – patatas

Haleu – bicara (istori)

Halawan – emas

Haka – buka

Hasui – ikut (bisol)

Hohu – cabut

Hatalai – dipinggir

Hasae – dekat

Honal – Leher

Ha tua – hati

Hena potu – tadi malam

Hena masa – kemarin

Hola – belah

Huran – bulang (hujang)

He he – taru

He he wato – taru disitu

Hasi – robe

Hasi ei – robe dia

Haha – dukung (gendong)(diatas)

Haturesi – batu labe

Hatu ukui – ujung batu

Hutu – iris

He ke – dari

he nu – teteruga

Hiti – angkat

Husa – tiup

Heri – dari

Heri sea – dari sapa

Heri – ubi

Ha heri – lupa

Hasolo – tabadiri

Hisa pica

Hori – keliling

Hasune – tasungsang

Heha – pukul

Herin – harga

Hala – pikul (beras) (nasi)

I

Inam – mamamu (ibu)

Inam marua – mama bongso

Isai – sandiri

Ina johor – keladi johor

Ina kau – keladi merah

Ite / imi – katong (kami)

Iri – gantong

Ital – kilat

Irai – besar

Irun – hidung

Ihin – pecah sepotong

Ite lou – katong samua

tentang sebuah hati


      Ku mau bersyukur tuk dia yang datang dalam hidupku
Ku mau bersyukur tuk pertemuan yang telah Kau sediakan
Ku mau bersyukur tuk setiap kenangan spesial yang ada
Ku mau bersyukur setiap waktu bersamanya
Ku mau bersyukur tuk slalu mencintai dengan sepenuh hatiku

Ku mau bersyukur tuk cinta yang kan tersimpan dengan indah dalam hatiku

Love u RAM

RAM


you’re my friend and that is true,
but the gift was given from me to you.
we went thru moments that were good and bad,
even moments that were happy and sad.
you supported me when i was in tears,
we stuck together when we were in fear,

its really sad that it had to be this way,
but it has reached its very last day.
miles away cant keep us apart,
’cause you’ll always be in my heart


IMG_9861c

      untuk banyak hal yang terjadi dalam kehidupan ini ia Tuhan yang mampu melakukan hal-hal hebat dalam hidup saya dan mampu melakukan yang lebih dari yang saya pikirkan dan doakan, untuk itulah saya ingin posting sebuah lagu sederhana lagu ini milik Hilsong united – God is able

linknya akan segera menyusul ;) :D harap bersabar


Ikatan pela ke-4 negeri ini semakin mengental sejak peristiwa perang masal Amaika (kurang lebih abad ke-14). Amaika adalah nama sebuah negeri yang terletak di pedalaman bagian timur pulau Haruku, kira-kira 3 km dari pantai utara Negeri Aboru. Negeri ini merupakan salah satu pusat perdagangan yang strategis di pulau Haruku, negeri ini merupakan tempat penukaran hasil hutan seperti : rotan, damar antara orang pribumi dengan pedagang yang berasal dari cina/tiongkok dan kemudian dengan pedagang-pedagang dari kepulauan Banda yang beragama Islam. Dari situ dapat diketahui bahwa negeri Amaika telah menjadi salah satu negeri islam di pulau Haruku akibat kontak dengan lingkungan luar itu.
Pada saat itu Amaika berada dibawah pimpinan sultan Suria Samara atau Kapitan Uru Hitu (berkepala tujuh), penyebab peperangan itu banyak, diantaranya:

download pdf untuk lebih lengkap SEJARAH IKATAN PELA

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.